Saturday, November 10, 2007

Simplify Your Work Life

Bukan seberapa besar uang yang bisa Anda hasilkan, tapi seberapa besar yang bisa Anda simpan. (Robert T. Kiyosaki)

Seringkali kita bekerja untuk memperoleh penghasilan atau uang. Tapi, semakin banyak kita bekerja & semakin banyak yang kita hasilkan bukan semakin kecil pengeluaran kita, tapi justru semakin besar.

Di kota-kota besar, seperti Jakarta sudah umum terjadi kemacetan dimana-mana. Apalagi headline koran akhir-akhir ini banyak memberitakan semakin parahnya kemacetan ibukota yang semakin membuat orang tidak manusiawi. Banyak orang stress & kehilangan kesabaran. Banyak factor penyebab disampaikan. Antara lain, pembangunan Busway yang bukannya menambah jalan tapi malah mengurangi ruas jalan yang ada. Semakin bertambahnya jumlah kendaraan, baik mobil apalagi motor yang tidak terbendung sangat tidak sebanding dengan pembangunan infrastrukturnya.

Sebelum pindah ke Jakarta, saya sempat bingung alias tidak habis pikir. Mengapa dalam satu keluarga yang isinya 4-5 orang, jumlah mobilnya bisa sama dengan jumlah keluarga tersebut?

Setelah pindah ke Jakarta mengikuti Suami, saya baru mengerti betapa mobilitas penduduknya begitu tinggi. Bahkan mobil sepertinya lebih penting daripada rumah. Sebagian orang malah membuat mobil mereka layaknya rumah darurat :) Ditambah kondisi angkutan umum di Jakarta yang sudah saya rasakan sendiri tidak nyaman & tidak aman.

Kalau begitu, pasti akan terus bertambah jumlah kendaraan pribadi di ibukota ini. Dan akan semakin macet & ruwetlah kondisi jalan ibukota di hari-hari kerja. Padahal efek dari kemacetan ini sangat fatal sebenarnya. Tidak cuma pemborosan uang (bensin) & waktu yang lebih lama, tapi juga mengganggu kondisi kesehatan fisik maupun mental penggunanya. Kinerja sudah pasti menurun & saya yakin semakin orang tidak mampu mengendalikan temperamennya juga semakin mengganggu hubungan antar manusia dalam masyarakat itu maupun dalam keluarganya. Hubungan Suami & Istri tidak harmonis karena sudah lelah duluan dengan kondisi di jalan & tekanan pekerjaan. Belum lagi anak-anak yang semakin kehilangan waktu bersama orang tuanya plus kalau ditambah lampiasan kemarahan atau bentakan orang tua yang mungkin tanpa sadar (karena kelelahan) menghardik anak saat sang Anak merengek minta diambilkan mainan atau minta diajak bermain. Duhh...kasian deh anaknya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Menyalahkan Pemerintah dalam hal ini yang tidak becus menata kota & terus menerus mengijinkan bertambahnya jumlah kendaraan di ibukota? Saya rasa itu juga tidak bijaksana. Memang peran atau andil Pemerintah sangat besar dalam hal ini sampai terjadinya keruwetan di Ibukota. Dan sudah seharusnya Pemerintah terus berupaya membenahinya. Tapi, semenjak 2 tahun lalu saya lebih memilih untuk instropeksi diri sendiri. Berkaca ke dalam diri sendiri, menanyakan ke dalam hati ini, apa sebenarnya yang saya cari? Apakah dengan mobilitas yang tinggi & kesibukan setiap hari pergi & pulang kantor akan memberikan kepuasan & kebahagiaan bagi diri saya & keluarga? Apakah saya sudah memberikan kesempatan yang cukup kepada diri sendiri untuk merenung apakah yang sudah saya lakukan selama ini telah memberikan kontribusi yang positif? Apakah saya melakukan semua aktifitas selama ini benar-benar dari hati ataukah karena tuntutan ekonomi atau pribadi atau sosial?

Akhirnya semakin saya menyadari bahwa produktifitas kita tidak diukur dari seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja di luar. Dan kekayaan kita (kalau dilihat secara materi) tidak diukur dari seberapa besar yang bisa kita hasilkan atau dapatkan, tapi seberapa besar yang bisa kita simpan & pergunakan secara efektif & bijaksana.

Secara kebetulan setelah beres-beres rumah hari ini, saya menemukan kembali buku lama saya yang saya beli 2 tahun lalu, Simplify Your Work Life, oleh Elaine ST. James. Buku yang cukup bagus, mengajak kita untuk mulai mengurangi waktu kerja, melakukan efisiensi, dan mulai melakukan hal-hal lain yang mungkin selama ini telah sering dikesampingkan. Ya…kembali pada keseimbangan hidup/ harmoni. Untuk lebih jelas tentang buku ini, lain kali akan saya ceritakan.

Salam,

Febby Rudiana

No comments: