Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Wednesday, August 04, 2010

Catatan Yusuf Mansur Network: Riyadhoh

Riyadhoh
Doa dan riyadhah2, mengalahkan metodologi dan sejuta cara:

Ada sahabat saya yang minta nama buat anaknya dan berdialog atas izin Allah. Kita
semua tentu kepengen dapat anak yang saleh salehah, tidak manja, mandiri, sehat,
senang lahir batin, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta sama shalat malam, dhuha,
shalat berjamaah, dan qabliyah ba'diyah. Unggul soal dunianya, serta bagus
akhiratnya. Kita pun tidak kepengen anak kita shalat pake disuruh2, ngaji pake
dipaksa2, bahkan makan minum dan mandi kudu dikomandoin. Kepengen ketika kita sakit,
ikut membelai kepala dan rambut kita dengan tangan halusnya. Ketika sudah dewasa dan
menikah, tidak melupakan kita. Senantiasa mengirimkan doa dan kebaikan untuk kita,
sepanjang hayatnya. Subhaanallaah, kiranya tidak ada yang bisa mewujudkan segala
impian orang tua kecuali Sang Pencipta, Allah Rabbul Jalaal, Yang Memiliki Segala
Cara, Kekuasaan dan Kebesaran.

DIA lah yang telah menciptakan anak kita, dan
mengamanahkannya, menitipkannya, kepada kita. Kita tinggal meminta-Nya u/ menjadikan
kita mampu. Dan kiranya tidak ada kecukupan waktu jika harus ikut training ini
training itu, workshop ini dan itu. Dan pastinya, tidak ada juga guru yang
kompetensinya komprehensif, mencakup apa yang kita minta dan yang tidak kita minta.
Selain Allah, Sang Maha Guru. InsyaAllah, Allah yang sudah menjadikan Nabi Yahya
anak yang saleh buat Nabiyallah Zakariya, dan Nabiyallah 'Isa buat Maryam, ibunya,
akan sanggup juga memberikan dan menjadikan anak2 kita sesuai dengan doa kita.
Apalagi jika kemudian kita bisa menjadi uswatun hasanah buat anak2 kita, dan menjaga
kehalalan dan keberkahan rizki kita. Ok, ini adalah dialog saya dengan sahabat saya.
Mudah2an bermanfaat::::::::::

Namain aja Muhammad Yusuf Mansur al Haafidz. Cakep tuh nama. Shalatin dua rakaat
ketika mau memutuskan nama, dan sejak skrng, doakan anak tiada henti; spy jadi
penghafal Qur'an, 'alim yang faaqih lagi shaleh, tawadhu' namun kaya raya dunia
akhirat. Ada seorang ibu yg anaknya 3, dan 3-3 nya jadi pengafal al Qur'an sebelom
umur 12th. Salah satu rahasianya, sejak anaknya masih dikandungan, ia mendoakan
anak2nya agar menjadi penghafal al Qur'an. Dan ayah ibu ini selalu dan selalu
meluangkan waktu u/ tahajjud dan dhuha khusus u/ anak2nya. Subhaanallaah, anak2nya
tumbuh menjadi penghafal al Qur'an tanpa metode2an, dan tanpa effort ayah ibunya
yang berarti. Anak2 ini bergerak sendiri. Malah tiap2 anaknya punya keunikan. Anak
yang ketiga, kalau menghafal, masuk kamar dan mengunci kamarnya. Selalu demikian.
Sebentar kemudian keluar, dan minta dibetulkan hafalannya bila salah, langsung dari
ayah ibunya. Sehari bisa 2-3 lembar. Kadang bisa 10 lembar bila sedang tidak
sekolah. Nilai2 sekolahnya di atas 9 semua. Nilai matematika si sulung ketika lulus
SD, 9,75. Nyaris sempurna. Doa, dan riyadhah2 ayah ibunya (mujahadah/sungguh2 dan
mudawamah/konsisten, terus menerus) jauh melampaui metodologi pengasuhan dan
pendidikan anak. Ga ikut training2 ini dan itu. Hanya banyak2 berbisik dan
pendekatan ke Allah Yang Maha Kuasa.

Subhaanallaah... Saya doakan anak2 antum dan
anak2 seluruh Indonesia, kiranya kuat, sabar, dan tahan mental dalam menghadapi
situasi sekarang dan masa depan yang semakin berat; panjang2 umurnya, sehat, jauh
dari penyakit yang macem2, orang2 tuanya diberi karunia rizki yang halal, luas, lagi
barokah. Dan agar anak2 kita semua, jadi apa keq dia, basicnya adalah hafal al
Qur'an. Ya Allah, saya nangis nih sms antum. Mdh2an ini jadi doa juga buat anak2
kita dan anak2 keturunannya sampe zaman ini berakhir. Salam, Yusuf Mansur.

Thursday, November 22, 2007

Aku Nggak Mau Sekolah.....

Hwwwaaaaaa.....Aku nggak mau sekolah...hwaa...hwaa...hwaa...!!!

Tiba-tiba tangis Alif menyentak saya di siang hari (Senin, 19 November 2007). Nggak biasanya Alif pulang dengan menangis. Sudah hampir 5 bulan ini Alif sekolah pre school di dekat rumah. Biasanya ia selalu ceria waktu pergi maupun pulang sekolah. Setelah ditanya ternyata katanya "takut sama Miss Umi". Ya, Miss Umi adalah salah satu guru yang membimbing Alif di pre school. Saya coba tanya ke si Mbak yang menemani Alif. Rupanya Alif ketika ditanya Miss Umi diam aja. Memang akhir-akhir ini kata si Mbak, Alif sering diam di sekolah. Hmmm...kenapa ya?

Ya sudah...daripada penasaran, mending waktu sekolah saya dampingi ia sampai selesai & cari apa penyebabnya. Apa benar karena takut dengan Miss Umi. Akhirnya saya peluk dia. Hmmm..si kecilku sudah mulai sensitif. Nggak apa, menangislah sayang....tumpahkanlah semua apa yang kamu rasakan...keluarkan semua ganjalan hatimu. I will give you a shoulder to cry on.....;)

Dua hari kemudian saya temanin ia sekolah sampai selesai. Benar saja, seperti yang dikatakan Alif. Miss Umi memang beda dibanding Miss yang lainnya. Ia lebih tegas dan sangat menegakkan aturan. Ckkk...ckkk..pantas saja banyak anak khususnya yang perempuan menangis. Masa' iya sih anak seumur begitu harus terus-terusan didikte dengan aturan. Hmmm...jadi kasihan juga. Pantas saja Alif jadi takut-takut di sekolah, khususnya saat pelajaran Miss Umi. Wahh...ini nggak boleh dibiarkan. Bisa mematikan kreatifitas anak namanya. Yang jelas ini harus disampaikan ke pihak sekolah.

Anyway, yang penting sekarang buat Alif, ia merasa tenang karena sudah bisa menumpahkan segala rasa takutnya. Fiuuuhhh....bersyukur Bunda bisa menjadi orang pertama tempat engkau menangis sayangku... Mungkin kalau Bunda sudah tua nanti, Bunda akan menangis di pelukanmu sayang...

Met bobo' sayang...Love you...:)

Salam,

Febby Rudiana

*******************************************************************
A Shoulder To Cry On Lyrics
» Tommy Page

Life is full of lots of up and downs,
And the distance feels further when you're headed for the ground,
And there is nothing more painful than to let you're feelings take
you down,
It's so hard to know the way you feel inside,
When there's many thoughts and feelings that you hide,
But you might feel better if you let me walk with you
by your side,

And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won't be alone, cause I'll be there,
I'll be your shoulder to cry on,
I'll be there,
I'll be a friend to rely on,
When the whole world is gone,
you won't be alone, cause I'll be there.

All of the times when everything is wrong
And you're feeling like
There's no use going on
You can't give it up
I hope you work it out and carry on
Side by side,
With you till the end
I'll always be the one to firmly hold your hand
no matter what is said or done
our love will always continue on

Everyone needs a shoulder to cry on
everyone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
you won't be alone cause I'll be there
I'll be your shoulder to cry on
I'll be there
I'll be the one you rely on
when the whole world's gone
you won't be alone
cause I'll be there!

And when the whole world is gone
You'll always have my shoulder to cry on....

Sunday, October 07, 2007

HAPPY RAMADHAN

Kali ini saya ingin menulis tentang acara ramadhan bersama yang digelar di sekolah si Alif. Alif yang tahun ini memasuki usia pre school, sengaja saya masukkan ke sekolah ini yang memang dekat dari rumah. Sekolah di usia dini bagi saya cukup bagus, khususnya untuk tempat bergaul anak-anak & membantu saya sebagai orang tua mendapatkan pedoman pendidikan apa saja yang bisa diberikan kepada anak usia dini.

Menurut psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of Hamphsire, untuk mencapai keberhasilan, seseorang perlu memiliki kualitas emosional, antara lain: Empati, Mengungkapkan & Memahami Perasaan, Kemampuan Menyesuaikan Diri, Kemampuan Memecahkan Masalah Antar Pribadi, Kesetiakawanan, Sikap Hormat, Mengendalikan Amarah, Kemandirian, Disukai, Ketekunan, & Keramahan. Kualitas emosional ini tidak begitu saja dibawa seseorang saat dia lahir, namun harus diasah melalui sebuah kontak interpersonal dan intrapersonal. Sekolah rasanya menjadi tempat yang "pas" untuk itu.

Saya pribadi tidak memaksakan Alif untuk sekolah karena sayapun menyadari bahwa anak usia dini masih belum bisa dituntut untuk disiplin. Oleh karena itu saya memilihkan sekolah seminggu 3x dengan jam sekolah cukup 2 jam saja. Jam masukpun saya pilihkan yang masuk jam 10 siang, agar kalau dia masih susah bangun pagi, tidak perlu terlambat sekolah :)

Alhamdulillah, perkembangan Alif semenjak sekolah cukup pesat. Sayapun bisa mempersiapkan terlebih dahulu apa yang kiranya akan diajarkan di sekolah, karena setiap minggu pihak sekolah memberikan materi yang nantinya akan diajarkan di sekolah. Demikian pula setiap minggu pihak sekolah memberikan report pencapaian dari materi yang sudah disampaikan.

Acara Happy Ramadhan kali ini adalah acara hasil kerjasama pihak sekolah & orang tua murid. Acara terbagi menjadi dua bagian, yaitu untuk anak & lainnya untuk orang tua (Ibu).
Untuk anak dibuat acara membuat kolak, video & kajian ramadhan, membuat kartu lebaran, dan membagikan makanan kepada kaum dhuafa & orang yang berpuasa diluar sekolah. Sementara untuk Ibu diadakan acara pengajian yang diisi ceramah dari seorang ustadzah.

Tema kajian cukup menarik, tentang kewajiban seorang Ibu terhadap anaknya. Saya coba tuliskan sedikit dari apa yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Anak adalah amanah yang Allah SWT pikulkan dipundak orang tua. Ia dalam bahasa Al-Qur'an bahkan disebutnya sebagai "batu ujian" bagi orang tua. Hadirnya anak akan menguji seseorang, apakah seseorang itu benar-benar memahami amanah itu ataukah tidak.

Allah SWT berfirman, "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar." (Al-Anfal/8:28)

Jika orang tua memahami hakikat hadirnya seorang anak lalu mendidiknya dengan iman hingga menjadi anak sholeh, maka orang tualah yang pertama kali akan memetik hasilnya, bahkan sampai ia meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda, "Ketika manusia meninggal dunia maka terputuslah amal darinya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Adapun jika orang tua tidak memahami anak yang dilahirkannya, maka iapun akan mendidiknya dengan tanpa rencana, tanpa misi, dan tanpa orientasi yang jelas. Jika di kemudian hari anak ini ternyata justru menjadi yang bermental buruk, yang menanggung malu pertama kali adalah orang tuanya. Lalu, ia akan merusak masyarakat dan bangsa dengan akhlaknya yang buruk. Naudzubillah... Semoga kita bisa mendidik anak-anak kita dengan baik. Amin.

Berhubung masih agak panjang....maaf, disambung nanti ya...saya mau persiapan toko dulu :)

Salam,

Febby Rudiana
Ps. Hari ini saya pengin ke salon Moz5 lagi nih...:) Kangen pengin luluran & creambath. Itung-itung buat persiapan memasuki hari Idul Fitri, kan.. sesekali perlu juga perawatan badan. Insya'allah bisa bersih jasmani & rohani. Amin....